Arsip Tag: harga telur

Beternak Puyuh dan Harga Diri Peternak

Pernahkan kamu mengalami yang saya alami. Situasi yang memaksa kamu untuk berhenti beternak puyuh? wah gawat.
Mungkin kamu harus berhenti karena harga telur puyuh tak kunjung naik. Usaha beternak puyuh kamu merugi?

Mungkin puyuh kamu kena penyakit dan kamu harus afkir semuanya. Karena dari sisi peternakan merugi juga?

Mungkin kamu pertama kali memulai usaha puyuh. Ilmu peternakan kamu belum mahir dan mengalami kerugian sehingga terpaksa gulung tikar beternak puyuhnya?

Atau kamu mungkin pernah kena harga pulet/puyuh remaja yang di jual ke kamu harganya terlalu mahal. Kemudian saat kamu jual telur kamu dikasih harga dibawah harga pasaran yang ada? Afkiran pas harga murah pula? (capek deh..)

Kamu mungkin juga memulai usaha puyuh. Tapi manajemen keuangan kamu jelek. Akhirnya merugi. Kamu tutup peternakan kamu?

Atapun kamu pernah disupport permodalan dari lembaga tertentu. Kemudian ternyata. Setelah beli kandang layer dan buat kandang rumahannya. Modalnya gak keluar keluar. Akhirnya tidak jadi beternak puyuh?

Trus.

tetangga/teman/mertua kamu bertanya. Bagaimana perkembangan beternak puyuh kamu?

Untung gak??

Kamu jawabnya kira – kira Jujur gak ya??!

atau kamu cari alasan logis, coba mencari kambing hitam kenapa usaha puyuh kamu gak jalan/gagal? (tipikal mikir harga diri “usaha kok gagal terus??” Jaim sama mertua)

Saran saya sih.

Jangan utamakan harga diri.

Utamakan lah “Sarapan” (bercanda). Biar gak lapar. Sarapan penting.

Kalo kita utamakan harga diri/ego dan tidak mengutamakan logika. Maka mungkin tiap mau memulai usaha apapun tidak akan menemukan jalan keluar permasalahan.

Kalo di kasus saya.

Saya pernah berhenti beternak puyuh karena situasi yang lebih penting. Istri saya melahirkan dengan cara operasi sesar (SC). 2 Anak saya pagi haru mempersiapkan sekolahnya. Bayi nya butuh menjemur kalo jam 7 pagi. Istri saya sendiri tidak bisa leluasa bergerak karena perutnya (luka operasi) masih dalam masa penyembuhan dan pemulihan.

Akhirnya semua puyuh saya yang masih berusia 4 bulan dan 7 bulan saya afkir semuanya. Saya lebih mengutamakan keluarga di banding beternak puyuh.

Selain puyuh masih ada sewa – sewa lahan pertanian yang masih bisa saya gunakan menghidupi keluarga (pikir saya).

Saat sahabat/tetangga/mertua bertanya kepada saya. Bagaimana perkembangan puyuh saya. Ya saya jawab jujur saja apa adanya. Toh, memang keadaannya seperti itu.

Mungkin beberapa orang berpendapat. Berhenti usaha puyuh berarti kegagalan.

Namun apabila kita bisa mengambil perspektif/pandangan yang beda. Cara mengartikannya juga berbeda.

Kita bisa mengartikannya mungkin kita gak jodoh berternak puyuh. Bisa saja kan.

Dari kegagalan kita. Kita bisa move on. Trus Tuhan membukakan pintu rejeki yang lain yang mungkin tidak kita sangka. Dari situ malah kita bisa berhasil. Siapa yang tahu?

Yang penting.

Jangan buruk sangka dulu. Berusahalah Maksimal. Kalo gagal cepat move on.

Ingat.

Manusia hanya berkuajiban berusaha.

Masalah Hasil TUHAN yang menentukan. Manusia tidak kuasa mempengaruhi hasil atas usahanya.

Just keep working, Never forget Praying.

Tetap berusaha/bekerja dan jangan lupa doa.