Bahasa Arab. Alasan harus mempelajarinya

Umar bin Khattab berkata,
“📖Pelajarilah Bahasa Arab, karena Bahasa Arab merupakan bagian dari agama kalian.📖”

 


1⃣ Mukjizat Keindahan Al Qur’an
Kalaulah mau dipikir sejenak. Ternyata, mukjizat seorang nabi itu umumnya sesuai dengan sesuatu yang tengah populer di kalangan kaum tersebut. 
Sebutlah, Nabi Musa. Kala itu sihir sedang marak-maraknya, maka coba tengok mukjizatnya. Tongkatnya bisa bermacam guna. 
Atau pula, Nabi Isa. Pada zamannya, pengobatan ialah yang utama. Maka, coba perhatikan mukjizatnya. Menyembuhkan orang sakit, bahkan pula bisa menghidupkan kembali orang mati atas izin Allah ta’ala. 
Beda halnya dengan zaman nabi kita, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Syair begitu didamba. Seseorang bisa naik dan turun derajatnya, tersebab sajak yang tertuju pada dirinya. Ditengah antusias yang tinggi terhadap syair; turunlah mukjizat mulia berupa Al Qur’an, yang membuat setiap kafir Quraisy tercengang karena keindahan bait-baitnya. Penyair mana yang tak takjub dengan keindahan bahasa Al Qur’an..
Lalu, seperti apakah keindahannya?
📌Jawabannya; Tahan Dulu Penasarannya, Yuk Kita Belajar Bahasa Arab : )

 

2⃣ Sebegitu Menakjubkan- kah Bahasa Al Qur’an…?
Nama Umar bin Khattab mengabadi dalam pembahasan ini. Keras hati-nya meleleh, ketika mendengarkan bait-bait lembut yang penuh kesejukan. Ia takjub dengan bahasa Al Qur’an. Hingga ia nyatakan diri untuk masuk Islam. 
Ada lagi, seorang perampok sangar. Dikisahkan, saking tangguhnya; sampai-sampai dalam operasi perampokkannya, ia tak lagi butuh partner dan tim. Akan tetapi, masih ada secercah cahaya di hatinya. Ia bertaubat sebab mendengar kutipan ayat Qur’an. Bahkan setelah taubatnya itu, beliau menjadi ulama yang sangat diakui keilmuannya. Benar sekali tebakanmu; Fudhail bin Iyadh namanya.
Masyaa Allah, Orang yang dulunya ‘sekeras’ Umar, ‘sesangar’ Fudhail; menjadi tersentuh bertaubat setelah mendengar ayat al Qur’an. Bacaan Qur’an begitu membuat mereka merasakan nafas-nafas hidayah dan keimanan. Mana mungkin hati mereka bisa bergetar ketika mendengar ayat al Qur’an, bila Bahasa Arab mereka tak faham. Kuncinya, bahasa arab harus faham.
Kemudian, coba tanya, kapan terakhir hati kita bergetar setelah mendengar ayat al Qur’an? Pula, kapankah tiba masa dimana kita bisa memaknai Al Qur’an di dalam hati yang mendalam?   
📌Jawabannya; Tahan Dulu Penasarannya, Yuk Kita Belajar Bahasa Arab : )

3⃣ Doa-Doa dan Bacaan Shalat Jadi Lebih Terhayati
Siapakah diantara kita yang tak merindu untuk bisa khusyuk dalam shalatnya? 
Ketahuilah, syarat agar kita bisa khusyuk dalam shalat ialah dengan memahami apa yang kita ucapkan. Kapankah kita akan; menangis ketika membaca surah Qaf, Berhikmah kala membaca kisah kisah , dan berseri kala Allah berfirman Surga, dan berkhawatir diri kala Allah berfirman tentang adzab-Nya; manakala kita tak tau apa yang kita baca dalam shalat kita.. 
Kita juga baru tahu, ternyata ada hubungan terkait antara gerakan dan bacaan. 
Sujud misalnya.
Kita rendahkan kepala kita. Mencium bumi serendah-rendahnya. Untuk apa? Untuk mengakui bahwa Allah Maha Tinggi. Sehingga setulus hati, kan kita resapi tuk ucapkan, “Subhaana Rabbiyal a’laa.”
Lalu, bicara soal doa. Seberapa banyak doa kita mengerti maknanya. Bagaimana pula bila kita tak paham apa yang kita pinta? Ucapkan sembarang “aamiin” bukan pada tempatnya. Lalu dimana jarak ijabah dengan segala pinta?
Kemudian, timbul tanya, kapan bisa merasakan manisnya ibadah? kapan kiranya bisa meresapi segala bacaan doa dan menghayati bacaan dalam shalat kita?
📌Jawabannya; Tahan Dulu Penasarannya, Yuk Kita Belajar Bahasa Arab : )
— 
4⃣ ‘Afwan Jiddan, Kita Akrab ber-Bahasa Arab
Bertutur guru bahasa Indonesia saya; Bu Baruna. Bahwa, kata dalam bahasa Indonesia itu menyerap 30% dari bahasa Arab. Banyak sekali, serapan kata dalam perbincangan kita. 
Bahkan, tidak hanya yang berbau ‘serapan’. Tak jarang, justru kita malah memakai murni Arab sendiri dalam keseharian. 
Misal pada kalimat; “Assalamu’alaykum, ukhti” ,

“Insya Allah, ana mau ta’aruf” atau 

“Afwan jiddan, ana tolak antum”.
Eits, baru saja sepertinya kami menulis kata yang janggal. ‘Afwan Jiddan.

Kata ini memang akrab di telinga dan lisan. Padahal, dalam bahasa arab, lafazh macam ini tidaklah dikenal.
Kata ‘afwan merupakan maf’ul muthlaq, yang mana kata kerjanya dihapus. 
Awalnya, kalimatnya berbunyi, “Asta’fikum ‘Afwan.” Kemudian agar simpel, dihapuslah subjek dan kata kerjanya. Jadilah sebutan ‘Afwan’. 
Sejatinya, kata ‘afwan’ sendiri sudah bermakna “Saya minta maaf bangeet”. Jadi kalau ada yang bilang ‘Afwan Jiddan’, artinya jadi; “Saya minta maaf banget bangeeett”, Ah, terlihat berlebihan. Kurang elok dan tak sesuai kaidah, kawan…
Masih penasaran dengan Maf’ul Muthlaq…?
📌Jawabannya; Tahan Dulu Penasarannya, Yuk Kita Belajar Bahasa Arab : )
Di mana belajarnya? 
Ma’had Umar bin Khattab, Divisi YPIA Yogyakarya

Sumber: muslim-pedia

About Khamim

Hi, Selamat Datang di personal blog saya..
Nama Saya Khamim Nugroho Iswanto, saya seorang peternak agropreneur yang sedang mendalami online business. Di web ini saya ingin berbagi pengalaman bagaimana pengalaman saya beternak puyuh dan serba serbi online bisnis. Semoga apa yang saya tulis bermanfaat untuk semua pembaca yang datang di blog saya.
Selanjutnya kamu bisa liat profil saya lebih lanjut di halaman facebook saya. Semoga dengan kita berkenalan bisa menjadi teman. Dan kedepannya kita bisa syaring ilmu dan saling memberi manfaat. Selamat membaca..

Tinggalkan Balasan